Arsip Blog

Slider

5/random/slider

Label

Advertisement

Main Ad

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.

Facebook

Ramadhanku, Ramadhan Wong Kito Galo.

32 komentar



Ketika sudah berada di puncak entah kenapa aku sering kali senang menceritakan saat-saat dimana aku mengalami kesulitan melalui rintangan sebelum puncak tersebut. Hal yang sama terjadi ketika suasana ramadhan yang kita injak ditahun ini berbeda jauh ekspektasinya. Hal- Hal yang aku rindukan saat suasana Ramadan dan persiapan lebaran tahun ini akan menjadi sebuah paket parcel antik yang kelak tidak akan aku lupakan seumur hidup.

Ada kesedihan yang tertahan disudut mata kanan dan kiriku, sebab selain berada jauh dari keluarga, aku juga harus menikmati ramadhan tahun ini berada jauh dari suami. Tapi tak mengapa, jauh daripada itu aku masih sangat bersyukur sebab tempat tinggalku saat ini berada diantara orang-orang yang sangat hangat. Tidak ada ikatan darah sedikitpun, tapi kepedulian dan rasa sayang mereka merangkul hangat dinding-dinding rumah sederhanaku.

Bercerita tentang hal-hal yang dirindukan saat ramadhan adalah hal mutlak bagiku jika jawabannya adalah “ masakan mama”.
Ketika sudah sedewasa ini masakan mama menjadi sangat dirindukan, sebab hanya saat ramadhanlah  aku bisa memastikan alasanku untuk pulang kerumah orangtua dan bermanja mesra dengan selalu memohon pada mama agar menu makanan hari ini, mama yang masak.

Sebagai salah satu keturunan asli Palembang, mama punya tangan ajaib ketika sudah meracik menu masakan khas Wong Kito Galo ini. Aku sendiri merupakan anak sulung mama yang cukup handal meniru masakan mama. Tapi bagiku racikan masakan dari tangan mama adalah yang paling hebat.

Apalagi ketika suasana ramadhan seperti ini, menu takjil dan masakan khas Wong Kito Galo senantiasa selalu tersaji diatas meja makan mama. Sederhana memang, tapi ketika aku tinggal berada jauh dari lingkungan kebudayaanku menu takjil dan makanan tersebut sangatlah tidak mungkin dijajakan oleh warung makan disekitar tempat tinggalku yang sekarang. Sehingga aku harus meracik sendiri menu takjil tersebut dan membagikannya ke tetanggga sekitar rumah, dengan begitu aku bisa merasakan seolah olah sedang menyantap makanan tersebut bersama keluarga dan orang tuaku. Secara tidak langsung aku juga sudah turut mengenalkan beberapa menu makanan khas Wong Kito Galo ini.

Itulah mengapa untuk kesekian kalinya aku katakan bahwa, masakan mama adalah yang aku rindukan. Mungkin ada yang bertanya, memang apa sih menu takjil dan masakan khas dari masyarakat Wong Kito Galo seperti kami?

1.    Burgo
Burgo adalah makanan asli Palembang berbentuk dadar yang digulung. Adonannya terbuat dari campuran tepung beras dan tapioka. Rasa gurih kuah santannya sangat khas dan wangi, sebab berasal dari kaldu ikan tenggiri yang biasa menjadi komposisi penting dalam burgo.



Mama biasa memasak burgo dalam seling hari terjadwal misal seminggu sekali selama ramadhan. Mama biasanya masak burgo dengan jumlah adonan yang besar sebab ketika sudah matang, mama senantiasa membagikan menu tersebut kerumah nenek (ibu kandung mama yang masih sehat  sampai sekarang), nyai, uwak, serta sanak sepupu. Kadang, ketika mama tidak cukup fokus dalam menghitung jumlah takaran adonan, tepung dadar yang direbus tersebut biasanya mengalami kekakuan saat akan digulung, sehingga burgo yang harusnya digulung dan menjadi irisan dadar halus seperti macam tak beraturan bentuk, pokoknya alakadarnya saja yang penting matang, “Aiii... ujung-ujungnyo kagek masuk perut jugo” (artinya : Ahh..sudahlah nanti juga masuk perut) mama biasa menimpali. Hahahahaha….. Ah, jadi berkaca-kaca mengingatnya.  😥


2.    Pempek Pistel
Pempek Pistel adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari tepung terigu  dan tepung kanji dengan isian kates serut dan ebi kering serta beberapa komposisi lain seperti telur, bawang putih yang dihaluskan, penyedap rasa dan garam. Seperti makanan wajib yang harus ada , itulah mengapa keturunan wong kito galo selalu menurunkan resep membuat pempek pistel ini ke anak cucunya sebab hampir setiap hari kami selalu mengkonsumsinya. Dan tidak lupa cuka khas kental gula aren adalah yang menjadikan pempek ini terasa nikmat dan lengkap.



Bagi mama membuat pempek pistel tidak memerlukan keahlian khusus, yang perlu menggunakan keahlian itu adalah mengambil kates muda dari atas pohon sebagai isian dari pempek pistel ini.

Sebab biasanyo batang kates tukan tumbuh njulang luhus kepucuk.
(Artinya: sebab biasanya pohon papaya itukan tumbuh tinggi menjulang keatas)
Nah, mama biasanya mengambil kates muda diatas pohon dengan menggenggam galah panjang dari bambu menggunakan tangan kanan kadang juga menggunakan kedua tangan kanan dan kirinya, lalu kedua kakinya memasang kuda-kuda bersiap menendang kates yang jatuh dari atas kearah mana saja yang sekiranya bisa jatuh diatas rumput agar tidak pecah.
Ketika mama bersiap menghujamkan galah kebagian pangkal kates, mama akan berteriak “ Awas minggir kau wong tu, agek keno palak, binjol”. (Artinya : “ awas kalian semua minggir, nanti kepala kalian tertimpa, bengkak”).

Bisa dibayangkan? 😱
iyesss....seketika itu pula lah kami harus mundur beberapa langkah, berada jauh dari area, dari pada kates yang ditendang tadi nyasar kearah kami. Hahahahaha…😆😆

3.    Rujak So’un
Rujak so’un asal Palembang memakai kuah cuka dan gula merah aren kental.
Rujak mie so’un khas wong kito galo ini menggunakan mie so’un sebagai bahan utamanya. Pelengkap lainnya berupa tahu, tauge yang sudah diseduh air panas mentimun, bawang goreng, daun seledri iris dan kacang tanah yang digoreng serta taburan kerupuk diatasnya.

Ada yang mengatakan rujak mie so’un ini adalah modifikasi dari pempek karena wong kito galo  dak biso jauh dari panganan berbahan ikan ini. Pempek lenjer biasonyo dipotong kecik-kecik (kecil-kecil) kemudian dimasukkan dalam isian rujak.



Rujan mie so’un buatan mama menurutku paling endesss rasanya, sebab kali ini alasannya bukan karena proses menemukan atau mencari bahan-bahan racikannya, tapi karena mama selalu mengajarkan agar melengkapi segala komposisi utama ketika membuat rujak mie so’un ini termasuk taburan diatasnya.

Mama pernah bilang “ makan itu bukan kenyangnyo, tapi cam mano makanan tu bumbu samo bahannyo lengkap pastilah sedap jingoknyo , telebih agi pastilah nikmat nyantapnyo”.
(Artinya : makan itu bukan mencari kenyang, tapi tentang bagaimana kita melengkapi bumbu dan bahan dari menu makanan tersebut sehingga ketika kita menyajikannya saja terlihat nikmat apalagi ketika menyantapnya).

Mama selalu berusaha memberikan sajian yang sederhana namun kaya makna. Sangking rindunya dengan masakan mama, hingga ramadhan hari ke 16, rujak mie so’un ini saya masak sudah sebanyak 4 kali.
Bewww….. Jangan Tanya sudah berapa kilo gula aren yang saya masak sampai hari ini.
Hihihihi….😂😂

4.    Pepes Tempoyak Ikan Seluang
Tempoyak atau tempuyak adalah masakan yang berasal dari buah durian yang difermentasi. Tempoyak merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi sebagai lauk saat menyantap nasi. Tempoyak juga dapat dimakan langsung.



Di rumah mama, tempoyak dimasak dengan campuran utama ikan, ikan yang digunakan biasanya adalah ikan sungai yang didapat dari sungai sekitar rumah dengan cara memasang jaring.
Abah (ayah) adalah seorang penyelam ulung dan sangat pandai menangkap ikan dengan jaring. Ikan yang sering terperangkap di jaring adalah jenis seluang, oleh karena itulah ikan seluang biasanya menjadi ikan yang sering dimasak pepes dengan tempoyak oleh mama.

Kalo ada yang penasaran gimana rasanya?
yukk ..ah kapan kapan main ke rumah mamaku, ikut aku pulang kampung. Nanti aku minta sama abah untuk pasang jaring, dan minta mama untuk memasak ikan seluang tangkapan abah dengan teknik pepes tempoyak.

Aiiii……Sedap nian ini pastinyo!!! 😘😘

5.    Pindang Ikan Baung
Pindang merupakan makanan (lauk) khas Palembang Melayu. Pindang merupakan masakan dengan pengolahan sederhana. Pada masa lalu, aktivitas masyarakat yang tinggi, menyebabkan dorongan untuk memasak secara praktis. Pada sisi lain, Sumatera Selatan yang memiliki aliran Sungai Musi beserta anak-anak sungai lainnya, menyediakan ikan yang berlimpah. Ditambah lagi lebak (rawa) memiliki kekayaan yang sama melimpahnya. Dibuatlah kemudian pindang ikan. Ikan yang biasa dimasak pindang adalah baung (Mocrones micracanthus Bleeker).

Bumbu pindang sangat sederhana, yaitu bawang merah, bawang putih, serai, kunyit, lengkuas, jahe, cabai, dan asam kandis. Semua bumbu diiris halus memanjang. Sementara ikan bisa didapat disungai dengan memasang jaring. Dan itu tugas abah (hehehe).


Ciri khas dari masakan mama adalah, entah mengapa ketika mama memasak pindang ikan baung ini, tidak pernah sekalipun kuah dari  pindang ikan ini pahit atau nyegrak. Tidak. Tidak pernah sekalipun.
Dan mengapa saya sangat merindukan masakan pindang ikan baung mama? Karena di tempat tinggal saya sekarang , Kota Semarang, saya tidak tahu dimana saya harus mencari dan mendapatkan bahan utaman ikan baung ini. Jadi bisa dibayangkan ketika saya pulang kampung hanya setahun sekali, maka setahun sekali pula lah saya hanya bisa menikmati pindang ikan baung buatan mama.

Hiks…Hiks….😭😭😭
Jadi netesin air mata deh, ternyata mengenai masakan mama yang kurindukan, bukan hanya tentang masakannya, tetapi tentang canda tawa, segala kegokilan juga cerita drama yang mewarnai dalam proses memasak itulah yang menjadi bumbu-bumbu rinduku pada masakan mama. Ditambah lagi ini adalah bulan Ramadhan, dan ini pertama kalinya aku tidak bisa pulang kampung dan berkumpul dengan adik serta kedua orangtuaku sebab wabah covid-19.
Do'a ku, do'a kita, dan do'a kami semua. Semoga wabah ini segera berlalu. 
Sehingga hal-hal yang dirindukan saat suasana ramadhan seperti ini bisa segera ditunaikan. Amiin....

Kalo kalian gimana?
Apa saja jenis masakan mama yang kalian rindukan?
Mari berbagi dikolom komentar, ^_^
Terima kasih sudah membaca ceritaku…







Fitra juwita
Memastikan bahwa kalian mengenal aku melalui tulisan dan sebaliknya.

Related Posts

32 komentar

  1. Mbakkk hihihi seru banget ya bebikinan makan sama mama tuh. Ada aja komentarnya yg kita inget sampai sekarang. Ibuku sukanya bikin soto tauco dari Pemalang. Bumbunya minta dikirimin sih dari kampung nggak bikin fermentasi sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, ternyata omelan mama yang dulu-dulu itu punya buah hikmah yang manis mbak. soto tauco, hemm lezatt aku pernah nyobain dibrebes mbak, dket pasar . lupa namanya.

      Hapus
  2. Aku belum pernah makan semuanya nih huhuhu, dulu pas ke Palembang tahunya pempek, model, dll gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. yukk mbak kapan kapan main kekampungku, siap siap tapi harus segera sikat gigi sebab makan seperti cuka pempek beresiko utk gigi , hehehe

      Hapus
  3. Rujak mi nampaknya seger banget ya mbak. Cocok banget dinikmati di skiang hari yg panas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, seger banget. tetangga ku juga bilang pas berbuka santap itu seger.

      Hapus
  4. Lidahku selalu cocok dan nagih dgn makanan Palembang Mbaa... Semuanya sukaa rasanya, pempek pistel mau doang diajarin bikinnyaa Mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh mbak, yuk kapan kapan aku list kan komposisis dan cara buatnya

      Hapus
  5. Sabar ya mbak, semoga pandemi covid19 segera berlalu sehingga Mbak Fitra bisa pulkam dan berkumpul bersama keluarga aamiin.

    Dari banyak jenis makanannya saya tahunya hanya pempek, tapi kalau pempek pistel belum pernah. Paling penasaran sama tempoyak, apakah rasa duriannya tetap dominan, hehe.

    Paling seru saat ritual ambil buah pepaya, pasti orang-orang pada kaget dan cepat-cepat menghindar yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin mbak. bener bener kerasa mbak efek pandemi ini dengan suasana ramadhan tahun ini.

      tempoyak itu biasanya disajikan dengan cara dimasak mbak. sebab rasanya lebih semelidut apa lagi kalo dicampur ikan dipepes. lezatttttt...hemm..

      Hapus
  6. Ya Allah itu makanannya bikin ngiler semua terutama yang Burgo mau open order ga mbak? hehehehe pengen nyobain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pengen banget aku tu mbak bikin burgo disini, nanti tak kasih untuk mu juga mbak,,,tapi,,tapi,,, tapi ikannya cari dimana. hiks. hiks...

      Hapus
  7. Jd auto ngeces nih mb..aku pingin semua nih...rakus y..pingin nyoba Burgo penasaran ma rasanya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. rasanya kayak makan kaldu tenggiri mbak, gurih kentel, lezattttt,,hehhe,, aku juga ngencess jadiinya...hahahaha

      Hapus
  8. Aiiih..aku blom nyobain satupun masakan yg disebutkan ini. Hiks..asli jadi kepengen niih.. Semoga pandemi segera berlalu dan dirimu segera bisa merasakan masakan mama lagi yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. ayok mbak kapan kapan kerumahku, trus nanti kita kepinggir sungai nyabutin satu persatu ikan yang nyangkut dijaring yang dipasang abah. buat dipepes

      Hapus
  9. tidak ada yang bs menandingi masakan seorang ibu bagi anaknya, karena dimasak dengan penuh cinta dan kita tumbuh bersamanya. aihh selalu rindu msakan ibu juga :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, masakan mama itu Top banget dah pokoknya

      Hapus
  10. Makanan khas Palembang ya mbak. Enak ya. Seger gitu kuahnya. Dan pedes pastinya hahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak pedes pakenya cabe rawit dari kebun sendiri, hehehe makanya pedesnya kadang kelewat karena gak mikir harga cabe. hahaha, and bener lagi mbak ini seger banget. sama hal nya dengan rujak yang lainnya. intinya segala rujak itu cenderung seger memang mbak...

      Hapus
  11. Duh, aku suka nian Burgo samo pistel, kangen juga samo Plembang,belum kesampaian balek buat nostalgia, hehe..kalo makanan plembang, ada tetangga wong plembang jago nian masaknyo jadi terobati...semoga situasi membaik dan bisa mudik ya say..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lemak lah kalo ado tetangga wong palembang biso ngobati raso rindu kalo dio bagi kito masakan palembang yang dibuatnyo

      Hapus
  12. Foto-foto masakannya buat ngiler mb. Yang belum pernah Maya coba makan Burgo,jadi pengen nyobain Burgo. Ntar aku Searching resepnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. auot keringetan ini masaknya mbak, apa lagi ketika ngangkat cetakan rebusan tepung yang akan didadar itu. pokoknya kudu punya tim ini mbak.

      Hapus
  13. Wah jadi kangen masakan kakak sepupu waktu kami ke Palembang, disajikan pempek, tekwan, tempoyak ikan, rujak soun. Duh duhhh kangen, semoga pandemi beneran lenyap jadi bisa ke Palembang lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin. mbak... wah ternyata punya saudara dipalembang ya. tinggal dimananya mbak kakak sepupunya?

      Hapus
  14. Jadi ingat kapan hari ngetrip ke Palembang. Dimana-mana ditawarin pempek dan ikan, padahal aku nggak doyan ikan hahaaa... salahku sendiri ya kenapa ga doyan. Tapi gpp sih, melihat mereka makan lahap aku sudah ikut kenyang. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah nyesel gak mbak , kenapa gak nyobain. Bahkan disekitar jembatan musi pempek yang dijajakna dipingggir trotoar dan penjaja keliling itu rasanya gak kalah lo mbak sama penjual pempek yang ada dioutlet kota palembnag itu sendiri. next time pas balik lagi, kudu nyobain mbak..

      Hapus
  15. Masakan ibunda memang selalu dirindukan. Semakin terasa Rindu ketika masakan itu Tak lagi bisa Kita nikmati. Semoga segera bisa pulang kampung dan menikmati masakan ibunda ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin.. semoga bisa segera pulang kampung ,, dan request semua menu andalan mama mbak. mbak marita mau ikkut?

      Hapus
  16. Ya ampyunnn..kok aku asing ya sama makanan2 bikinan mama ini. Taunya pempek2 doang. Semoga mudik bs segera terlaksana ya mbak...

    BalasHapus
  17. wah makanannya enak enak dan anti mainstream buat saya mbak krna kalau di rumah lebaran ya indentiknya sama opor, ketupat dan rendang hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Follow by Email